Sabtu, 18 Maret 2017

Masih Liberal (?)

Koreksi sedikit untuk kawan yang masih Liberal
Yang gabisa move on dari pemikiran paling absurd tsb.
Yg mengaku penerus para mujtahid dan mujaddid padahal faktanya mereka babu Orientalis Barat
Paling suka mengkritik ulama. Mereka sebutkan ulama bisa saja salah, tetapi tokoh liberal tidak mungkin salah
Konon Bernafsu ingin menafsirkan ulang Al Quran agar sesuai zaman (katanya), tapi ditunggu tunggu kitab tafsirnya belum keluar keluar hingga detik ini

Sloganmu semua agama sama tapi paling benci agamamu sendiri
Dalam menghadapi masalah mengaku berpikiran bebas tidak terikat doktrin. Padahal berpikiran bebas adalah juga sebuah doktrin.. Doktrin dari hawa nafsu dan bisikan syaitan berwujud manusia disampingmu itu
Lihatlah dengan siapa anda sering berkumpul..

Sudahlah kawan
Islam sudah sempurna
Satukanlah pikiran dan perasaanmu dengannya
Karena Islam itu punya sifat memuaskan akal menentramkan hati dan menuntaskan masalah
Dan TIADA KERAGUAN DIDALAMNYA
Allah memuliakan kita dengannya

Liberal sudah ga zaman
Para Tokohnya pun sudah cari makan di parpol dan kementerian
Anda masih mau idealis dgn paham Liberal?
Tidak ada untungnya
Toh nanti saat beramal seperti muamalah, akad jual beli, akad nikah, mandi junub, hitung zakat dan mengurusi jenazah dll anda pasti butuh Islam karena "ulama" liberal belum sempat bikin "kitab fikih" yg sempurna mengenai hal itu..

Anda tidak akan pernah mungkin bisa konsisten menjadi liberal sejati selama statusmu masih muslim yg setia. Kecuali pikiran anda sudah sering selingkuh dgn pemikiran atau agama yg lain diluar Islam

MAAF YG INDAH SETELAH BERBUAT

Subhanallah...
Begitu indah dunia ini
Jika manusianya tawadhu, saling memaafkan
Yang selalu bersatu hatinya
Tanpa dendam apa apa
Bersedia memohon maaf 
Setelah berbuat perbuatan yang menggores hati
Dan bersedia memaafkan 
Walaupun terasa berat dan perih berdarah darah

baiklah
kami menerima permohonan maaf itu
setelah engkau berbuat menghina Quran dan juga Ulama

mohon kiranya
jika kelak 5 tahun atau 15 tahun lagi
Saat kami menemuimu keluar dari penjara
menjumpaimu yg sudah menderita sekian lama di bui
in syaa Allah kami akan memohon maaf 
karena telah memenjarakanmu sekian lama

begitu juga..
jika kelak jokowas lengser
atau para pelindungmu tewas dihakimi massa
ins syaa Allah
kami akan ikhlas memohon maaf sebesar besarnya
karena akhirmu yang tragis..

Saling memaafkan itu..
indah

Sukses Dakwah

Setiap muslim mungkin memiliki intelegensi dan skill yang berbeda. Untuk istiqomah dalam dakwah tidak perlu menunggu ahli dan berharap jenius. Asalkan tetap mengamalkan adab2 yang mulia dan siap berkorban apa saja

Islam..

Islam di hati
Islam terus
Islam selalu
Islam selamanya

KHATIB DISENSUS UNTUK...

Akhirnya ada perilaku yang terkategori amazing dari pemerintah (yaitu sensus dan sertifikasi ulama) yang bisa mengingatkan saya pada literatur tentang keemasan Islam. Suatu masa di zaman Khulafaurrasyidin, seluruh penduduk kota madinah disensus. Data penduduk tersebut sangat detail. Bahkan selain identitas yg umum, juga didata nama suku, nasab, bahkan keterangan kapan dia masuk Islam. Data tersebut digunakan untuk keperluan pembagian harta Baitul Maal oleh Khalifah. Setiap keluarga tidak ada yg luput dari pendataan tersebut.
Data tersebut juga mengalami proses pemutaakhiran setiap ada perubahan demografi. Bahkan setiap jumat di Masjid2 diadakan pendataan tentang penduduk sebelum shalat Jumat dilaksanakan. Khalifah mendata penduduk yang ingin melakukan usaha namun tidak memiliki modal, jomblo yg ingin menikah tetapi kurang modal dan data lainnya. Tentu tidak hanya didata saja melainkan diberikan solusi. (Memang agak Berbeda halnya dengan saat era Kapitalisme sekarang dimana tiap Jumat kita hanya mendengar berita ttg Isi kotak amal dan Susunan petugas jumat).
Proses tersebut tidak berhenti sampai di wilayah Madinah. Bahkan saat wilayah Islam meluas hingga ke wilaya Afrika pada masa Umar Bin Abdul Aziz juga tetap dilalukan oendataan. Hingga ada riwayat yang menarik yang menggambarkan keberhasilan sistem ekonomi Islam mampu memeratakan kesejahteraan di wilayah seluas itu. Pada masa itu diriwayatkan melalui jalur yang bisa dipercaya bahwa petugas zakat tidak mampu menemukan orang-orang yang layak menerima zakat di Afrika. Tidak ada fakir, miskin, yang terlilit utang dan mustahiq lainnya disana. Amazing!!!
Langkah pendataan ini adalah "Sunnah" yang dilupakan oleh ulil amri zaman kini. Dimana pendataan hanya identik dengan pembuatan E-KTP atau untuk keperluan Pembuatan Saftar Pemilih Tetap, bukan untuk bagi bagi kekayaan dari negara seperti zaman Khilafah.
Namun, mudah mudahan dengan adanya program pendataan ulama dan khatib yang diwacanakan Kemendag bahkan telah diinisiasi oleh Polri di Jatim (kok Polri ya? bukan BPS atau kemendagri atau kemensos gituu?!!) adalah langkah awal pendisiplinan data kependudukan seklaigus pemeratan kekayaan negara. Pahit rasanya jika pendataan ini hanya pesanan rezim yang terlanjur mengidap Islamfobia. Pahit pula rasanya jika khatib dan ulama disensus agar berbicara sesuai pesanan rezim. Bukan karena bertentangan dengan rasa kemanusiaan dan keadilan sja, melainkan ada hadits yang berisi ancaman mengerikan bagi ulama yg terjebak tunduk kepada penguasa tanpa mengindahkan Quran dan Sunnah.
Apapun itu, warga negara tetap harus berbaik sangka. Mungkin saja pendataan ini adalah langkah preventif agar tidak ada tindak kriminal yg dilakukan oleh warga lantaran mendengar ceramah. Siapa tahu ada warga yang bunuh diri selesai mendengar materi khutbah yg menyedihkan. Atau ada warga yg mati karena miras oplosan sehabis mendapat restu dari khatib. Atau ada suami yang membunuh istri dan anaknya seusai mendengarkan ceramah. Atau mungkin juga siswi yang mengaborsi kandungannya setelah pulang dari Majelis taklim. Who knows?????
Bisa juga agar warga terhindar dari materi ceramah yang memunculkan niat untuk korupsi. Siapa tau dari 343 bupati/walikota dan 18 gubernur tersandung korupsi (menurut Deputi Pengawasan internal dan Pengaduan masyarakat (PPIM) KPK) melakukan korupsi paska mendapat inspirasi dari materi khutbah...
At the end, saya berdoa semoga sensus ulama ini bukan karena rezim mengalami Islamfobia terhadap ulama kami. Atau bahkan mungkin merasa kalah pamor dan kalah populer dengan para ulama dan khatib yang lebih dekat di hati rakyat. Atau merasa masa depannya di pilkada jakarta atau pemilu 2019 atau bahkan posisi majikan Taipan terancam oleh semangat 212 nya para khatib dan ulama. 
Wallahu a'lam

ANTARA DUA HUKUMAN MATI

Jika seorang narapidana yang divonis hukuman mati disuruh memilih apakah mau dihukum dengan disembelih ataukah ditembak mati?. Secara emosional mungkin pilihan akn jatuh pada ditembak mati saja. Karena kata sembelih lebih menimbulkan rasa ngeri pada alam bawah sadar sang Napi ketimbang ditembak mati. Padahal konsekuensi dari keduanya sama saja, yaitu sang Napi kemungkian besar mati.
Walaupun sama-sama berbahaya, kata Komunisme (dan variannya seperti kata komunis, PKI, palu arit dsb) bagaimanapun tetap terkesan lebih mengerikan ditelinga rakyat Indonesia jika dibandingkan dengan kata Kapitalisme (dan variannya seperti kapitalis, demokrasi, pluralisme, feminisme liberalisme dsb). Padahal keduanya sama-sama ideologi dan sama sama bukan lahir dari akidah Islam dan bukan pula lahir dari rahim sejarah budaya umat Islam. Komunisme lahir dari Sosialisme yang akarnya dari dialektika materialisme Karl Max dan Kapitalisme lahir dari pemikir barat yang tersusun atas filsafat sosial dan teori ekonomi Barat. Namun jika ditanyakan kepada rakyat, diantara keduanya mana yang lebih "mengerikan"? tentu komunis. Fenomena yang sama muncul saat ini. Mengapa komunisme lebih terkesan kejam dan tidak manusiawi?
Demikian juga jika mendengar partai komunis, rakyat pasti geger dan merasa jengah. Namun rakyat tidak siap dengan prasaan yang sama jika mendengar partai kapitalis atau partai sekuler (seperti semua parpol yang ada di Indonesia). Padahal keduanya sama-sama melakukan aktivitas politik yang menyimpang dari nilai agama dan kemanusiaan.
Thus, Pada faktanya, saat kita mengganyang komunisme, Kapitalisme adalah pelaku kejahatan yang jelas-jelas sudah tinggal bersama kita dan bahan menguasai kita. Namun jika dibandingkan dengan komunisme, belum ada perasaan jijik dan keinginan kuat untuk mengusir kapitalisme, sebagaimana perasaan jijik dan ingin mengusir komunisme. PT. Freeport yang sekarang makin “kurang-ajar” melawan pemerintah (sebagai wakil rakyat pemiliki sah emas papua) adalah pelaku kapitalisme. Mungkin kita tidak akan menemukan fakta kapitalisme akan datang menyembelih rakyat Indonesia satu-satu. Tetapi apa yang terjadi dalam ekonomi Indonsia diaman uang tersedot ke sector non riil, dan kekayaan hanya berputar pada kaum kaya saja adalah ulah kapitalisme. Begitu juga mayoritas pembantaian di berbagai belahan dunia Islam, Negara Kapitalis adalah pelakunya, bukan Negara Komunis.
Kapitalisme bisa lebh berbahaya daripada komunisme di Indonesia di 3 dekade terakhhir Yang merusak pemahaman agama generasi muda di kampus-kampus Islam adalah pemikiran varian kapitalisme seperti liberalisme agama, pluralisme dan sejenisnya. Yang mengganyang syariat Islam dalam pranata keluarga muslim adalah juga varian kapitalisme yaitu paham feminisme dan individualisme. Bahkan yang sekarang dijadikan alat untuk menyerang Islam seperti Kebhinekaan dan kemajemukan adalah racun yang berasal dari filsafat barat: multikulturalisme dan pluralisme.
Finally, Komunisme memang berbahaya, tetapi kapitalisme juga tidak kalah bahayanya. Bahkan Negara yang dicurigai berbau komunis saat ini pun seperti Rusia dan China sejatinya adalah Negara kapitalis. So, what is our real common enemy? Ya. Dua-duanya. Dan saat ini, sesungguhnya Barat sendiri lebih khawatir dengan kebangkitan Islam dibandingkan Komunisme, paska Uni Soviet Runtuh. Jangan sampai Kapitalisme mengalihkan dunia kita. Wallahu a’lam

Orang berakal

Orang berakal adalah yang tidak panjang angan-angannya. Karena, siapa saja yang kuat angan-angannya, maka amalnya lemah. Siapa saja yang dijemput ajalnya, maka angan-angannya pun tidak ada gunanya. Orang berakal tidak akan meninggal tanpa bekal; berdebat tanpa hujah dan berbenturan tanpa kekuatan. Dengan akal, jiwa akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan berjalan. (Ibn Hayyan al-Basti, Raudhatu al-‘Uqala’ wa Nuzhatu al-Fudhala’)